Home » » Warga Jampangtengah Alami Krisis Air Bersih

Warga Jampangtengah Alami Krisis Air Bersih

Written By Samsun Ramlie on Rabu, 30 Oktober 2019 | Oktober 30, 2019

Reporter : Aris wbs

Warga Kampung Ciembe Lapang, Desa Padabeunghar, Kacamatan Jampangtengah, mengalami krisis air bersih. Kemarau panjang membuat warga harus antri lama untuk mendapatkan air bersih pada salah satu sumur gali. [sumber foto: Arid wbs]
Mediajampang.co.id, JAMPANGTENGAH - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sukabumi pada tahun 2019 membuat warga masyarakat kesulitan air bersih dibeberapa daerah. Kekeringan menyisakan duka bagi sebagian warga masyarakat Sukabumi akan sulitnya mendapatkan air bersih.

Seperti yang terjadi dan dialami warga Kampung Ciembe Lapang rt. 05/01 Desa Padabeunghar, Kacamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Sekitar kurang lebih 90 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Ciembe Lapang mengalami kesulitan air bersih. Mereka cuma mengandalkan satu sumur gali guna mendapatkan air bersih untuk keperluan mandi dan cuci pakaian, itupun harus antri dan berdesak desakan.

Saat ditemui mediajampang.co.id Erni (43) mengatakan, krisis air bersih didaerahnya sudah cukup lama. Hanya sumur gali itu satu satunya yang menjadi andalan pada saat musim kemarau datang.

Dua warga Kampung Ciembe Lapang, saat menunggu antrian untuk mendapatkan air bersih.  
"Ya, cuma sumur ini satu satunya yang menjadi andalan kami disini. Ya, walau meski mengantri  berjam jam mau apalagi, yang penting bisa kebagian air buat mandi keluarga dan nyuci," katanya.

Disinggung soal perhatian dari pemerintah setempat soal kebutuhan air bersih, sampai saat sekarang belum ada perhatian. Sementara, jika harus be like air bersih mereka harus mengeluarkan uang 120.000."seratus dua puluh ribu rupiah" untuk satu tangki air bersih.

"Sampai saat ini pemerintah Desa maupun daerah belum ada perhatian soal kesulitan air bersih. Sementara Jika kami beli air satu Tangki meski keluarkan kocek 120.000/per tangki," keluhnya.

Kalimat senada dilontarkan Bu Rini (38) masih warga yang sama. Kekeringan pada tahun 2019 lebih parah dibanding kemarau tahun lalu. Pasalnya, dulu masih bisa teratasi dengan adanya talang paralon dari gunung Citapen. Namun entah kenapa sekarang tidak ada.

"Ya, tahun sekarang kesulitan air bersih lebih parah dari tahun lalu. Kami hanya mengandalkan satu sumur gali disini. Namun debit Airnya sekarang sangat menipis. Mungkin juga penyebabnya kemarau terlalu lama," tambahnya. 

Share this article :
Saba Desa
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. INDOMOLA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger