![]() | ||
| Situs punden berundak makam pangeran gentar bumi di Pangguyangan, Kaki Gunung Halimun, Cikakak, Pelabuhanratu, Sukabumi. |
LINGKARPENA.id,- Literasi tentang Pangeran Gentar Bumi ini, sangat jarang kita temukan. Baru bersumber pada cerita rakyat secara turun temurun. Sebaiknya memang pihak terkait, utamanya Disporabudpar bisa peka dengan keinginan masyarakat yang menghendaki adanya kejelasan sejarah tentang siapa dan bagaimana sosok Pangeran Gentar Bumi ini sesungguhnya. Silsilahnya, riwayat hidupnya dan bagaimana kiprah semasa hidupnya.
Di kita ini, khususnya di Jawa Barat, terkadang banyak sejarah yang tidak tuntas penuturannya. Hampir-hampir tidak pernah ada yang jelas. Contohnya perihal Prabu Siliwangi, yang sampai sekarang dimana akhir hayatnya beragam versi, ada yang bilang dikuburkan di Puncak Gunung Salak, ada yang bilang di abukan di talaga rena, ada juga yang bilang di Sancang, dan lain-lain versi.
Ada baiknya pemerintah mengeluarkan versi sejarah resmi berdasar data sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ini akan sangat baik bagi perkembangan peradaban kebudayaan kita. Jangan dibiarkan terus-menerus isue terkait sejarah itu berhenti pada foklor atau cerita rakyat saja, tapi harus diikuti dengan penelitian akademis yang mumpuni. Sayang sekali jika generasi Indonesia mendatang harus kehilangan mata rantai sejarah negerinya.
Pelarangan penyebaran hoaks itu bukan hanya berlaku pada dimensi politik, sosial saja, dalam penyusunan dan penuturan sejarahpun juga harus diberlakukan. Jangan terus-menerus sejarah dijadikan alat untuk meninabobokan masyarakat, tetapi justru harus menjadi bagian kekuatan integral dalam membangun bangsa ke depan di era milenial. Mari kita ambil pelajaran dari kisah negara lain, bahwa kemorosotan peradaban suatu bangsa biasanya dimulai dengan pengaburan sejarah bangsanya.
