Reporter : Andi Utara
LINGKARPENA.ID - DEPOK Pangkalnya teroris adalah dari sifat intoleransi. Orang yang menjadi teroris bisa dipastikan punya sikap yang intoleran. Hal tersebut dikemukakan oleh Roby Sugara, Pengamat Teroris dari UIN Syarif Hidayatullah dalam acara Halaqoh Kebangsaan yang digelar di Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Jl Curug, Bojongsari, Depok Jawa Barat, Rabu sore (29/1/2020).
Halaqoh Kebangsaan dengan tema "Milenial Peduli Damai Bersama Tangkal Intoleransi" tersebut, diikuti oleh berbagai kalangan.
Dalam bahasan yang lain, Roby Sugara mengatakan, teroris merupakan orang yang melegalkan agama untuk kekerasan, mereka adalah anti demokrasi.
Salah satu cara untuk menangkal teroris adalah melalui jaringan literasi. Diera milineal mereka merekrut melalui sosial media. Sehingga anak anak milineal harus dikuatkan literasinya.
Di era sekarang, orang tidak memiliki keilmuan agama yang matang, tetapi bisa eksis memberikan ceramah dimana, pada akhirnya mereka terjerumus dalam menebar kebencian. Kajian literasi itu sangat penting, maka perlu dikenalkan sejak awal kepada para santri, tutur Roby.
Sedangkan Sofiudin dari Lembaga Fatwa MUI Pusat yang juga hadir sebagai pembicara pada acara tersebut, mengatakan dalam apparannya bahwa terorisme adalah nyata baik di Indonesia atau negara lain. Bicara teroris sangatlah kompleks, bisa jadi adanya kepentingan, politik, ekonomi, ideologi, dan seluruh aspek kehidupan.
Lebih lanjut Sofiudin, mengatakan Kriteria teroris haruslah jelas, sehingga tidak menjadi kabur dan menimbulkan fitnah.
"Perang dunia pertama pelakunya bukan orang Islam, demikian juga dalam perang dunia kedua. Mereka sering mengatasnamakan Islam untuk mencoreng orang Islam", tutur Sofiudin.
Runtuhnya gedung kembar di Amerika Serikat banyak menyimpan kejanggalan, ujar Sofiudin. Kejadian Ini dialamatkan kepada orang Islam seentara Amerika, Inggris, Israel sering menjadi pelaku huru hara.
Pesantren itu mengajarkan aklaqul kharimah, tidak ada pesantren mengajarkan tindak teroris, tambah Sofiudin.
