Editor : Muhammad Zidan
![]() |
| Siswa Seni dan Karawitan Sanggar Sagara terus melestarikan budaya seni tradisional |
Salah satu Sanggar seni Musik dan Karawitan "SAGARA" merupakan salah satu Sanggar yang masih bertahan di Kampung Bojongloa, Kelurahan/Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, saat ini. Sanggar SAGARA tersebut berdiri pada tanggal 01 Agustus 1983 dan sampai saat ini masih bertahan dan terus mengajarkan seni. Baik itu seni Musik, Karawitan serta Musik tradisional dan budaya lainnya.
Sanggar Sagara berada di Kampung Bojongloa, Kelurahan/ Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Menurut Pimpinan Sanggar Sagara Abah Endang, awal mulanya diberdirikan Sanggar terinspirasi setelah dilakukan kegiatan para pemuda menjelang perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 untuk hiburan masyarakat pada tahun 1983.
Kesepuhan Sanggar Sagara Abah Endang, saat ditemui LINGKARPENA.ID, secara eksklusif pada Senin (06/1/2020) membeberkan perjalanan ia meniti Sanggar Sagara hingga saat sekarang. Dirinya membuka pintu lebar bagi siapa saja yang ingin belajar seni musik dan karawitan siap untuk berbagi ilmu soal seni dan budaya tradisional.
"Dari dulu sampai sekarang Sanggar Sagara masih diisi oleh para kaum muda-mudi yang mau belajar seni dan budaya. Ya, selain mempererat silaturahim dengan belajar. "Iya, DIAJAR NEPAK JEUNG NAKOL GAMELAN BUDAYA SUNDA ( Belajar menabuh alat kesenian Sunda )" katanya.
Lanjut Abah Endang, Sangar Sagara kini memberikan tantangan pada kaum 'Muda Milenial' untuk datang ke sanggar untuk mencoba belajar menabuh alat musik Tradisional secara gratis tanpa dipungut biaya. Bagi yang berminat baik bagi warga Kota maupun Kabupaten Sukabumi, atau luar daerah sekalipun, Abah Endang siap tunggu kehadiran nya .
"Jika harus Abah katakan, Artis yang sekarang jadi Anggota DPR RI Desi Ratnasari, juga Syahrini artis terkenal, mereka dulu pernah belajar di Sangar Abah ini," terangnya.
Sementara itu, salah satu siswa Sanggar Sagara Nurjaman, asal Cibatu, Cisaat Kabupaten Sukabumi, masih duduk di kelas 1 SMA secara tekun terus belajar musik dan karawitan. Dirinya punya pandangan tersendiri soal budaya kesenian tradisional bahwa harus terus dilestarikan.
"Ya, memang sih, kebanyakan kaum muda milenial seusia saya mending pegang gadget dari pada belajar seperti ini. Namun, itu kembali pada kecintaan kita terhadap seni, khususnya budaya sunda. Ya, ada juga kadang yang nyinyir," ucapnya.
Kata Nurjaman, belajar seni dan karawitan ternyata mempunyai nilai ekonomis setelah kita bisa menguasai. Bahwasanya setiap ia pentas alhamdulilah ada tambahan buat uang saku. Padahal dia berkarya dengan senang hati demi mempertahankan dan melestarikan budaya dan kearipan lokal budaya sunda tersebut.
"Ya, pada teman-teman jangan pernah melupakan budaya. Pelestarian budaya itu patut kita jaga dan junjung tinggi karena mempunyai nilai luhur. Ya, intinya dalam kehidupan dan berbudaya harus saling menghormati, saling rawat dan mejaga sopan santun pada sesama khususnya pada yang tua," pesannya.
