Editor: Muhammad Zidan
![]() |
| Jenis tanaman Porang yang dibudi dayakan Abah Wawan di Kecamatan Cidadap Sukabumi. |Sumber foto: Samsun Ramli |
Potensi ekonomi dari porang sangatlah besar karena diterima oleh berbagai negara untuk beragam olahan, seperti makanan cepat saji, komestik, dan sebagainya. Hingga saat ini, salah satu keterbatasan ekspor porang Indonesia terletak pada penyediaan bahan baku yang masih terbatas.
Pola tanam porang paling cepat delapan bulan untuk sampai masa panen. Namun, untuk mendapat hasil yang lebih banyak, perlu waktu dua musim atau sekitar 1,5 tahun. Kata Abah Wawan (70) salah satu petani porang di Kampung Negleng, Desa Cidadap, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, kepada Lingkarpena.id, Sabtu (18/4).
![]() |
| Abah Wawan (kedua dari kiri) merupakan petani Porang, sekitar 7.000 bibit ditanamnya dilahan 1 hektar. |dok: Samsun Ramli |
Penanaman pertama pada lahan sekitar satu hektar ini dilakukan pada bulan november sebelum turunnya musim hujan pada tahun ini. Penyediaan sekitar 7.000 bibit, dengan pupuk kompos organik sebanyak empat kubik untuk pemumukan diawal penanaman. Jelasnya.
Untuk penjualannya nanti, Lanjut Bah Wawan, kami sudah diminta oleh pabrik di madiun, pabrik yang memproduksi umbi porang basah menjadi chips untuk di ekspor ke beberapa negara. Katanya.
Harganya cukup menggiurkan, umbi porang segar saat ini dihargai 9.500 per kilogram, katak yang tumbuh dari daunnya seharga 90.000 per kilogram, dan buah yang tumbuh dari bunganya seharga 150.000 per kilogram. Tandasnya.

