Redaktur : Surya Adam Sudaman
![]() |
| Ketua DPC sarbumusi Kota Sukabumi, Yosep Pujianto, jelang hari buruh Internasional.| Sumber foto: Istimewa |
Saat ini, menurut Ketua DPC Sarbumusi Kota Sukabumi Yosep Pujianto, nasib buruh banyak yang terancam mulai dari di rumahkan hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Bahkan buruh informal seperti PKL, UMKM, supir angkutan umum yang notabene berpenghasilan harian lebih sulit mencari penghidupan karena Covid-19.
"Di Kota Sukabumi mayoritas buruhnya merupakan buruh informal, namun sejauh ini Pemkot tidak pernah membahas bagaimana nasib mereka di tengah ancaman Pandemi Corona," tegas Yosep kepada lingkarpena.id, Kamis (30/4/2020).
Padahal, kata Yosep, jika di jumlah warga yang terkena dampak sudah barang tentu buruhlah yang paling signifikan jumlahnya dan paling terdampak. Bahkan, jika buruh tetap dibiarkan untuk bekerja dan melakukan aktifitas seperti hari-hari biasanya. Potensi penyebaran Covid-19 akan semakin besar.
"Tapi di sisi lain jika mereka tidak bekerja, mau makan dari mana. Sementara pemerintah sejauh ini yang dibahas hanya seputaran PSBB. Kalau ini terus dibiarkan, bukan mau berdoa yang jelek tapi Corona sampai kapan akan selesai," beber Yosep.
Dirinya berharap, pemerintah khususnya Pemerintah Kota Sukabumi bisa bijaksana dalam mengambil keputusan dalam PSBB yang direncanakan akan di terapkan tanggal 6 Mei mendatang.
"Kami minta buruh informal khususnya bisa diperhatikan, mulai dari UMKM, PKL, guru madrasah dan supir transportasi. Jangan sampai kita turun ke lapangan di peringatan may day untuk meminta hal tersebut di tengah pandemi seperti ini," tegasnya.
