Editor: Muhammad Zidan
![]() |
| Fakta dari aktivitas pertambangan pasir besi di Pesisir Karang Bolong, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Istimewa |
Dari upaya tersebut, akhirnya Perum Perhutani melalui Divisi Regional Jabar dan Banten KPH Sukabumi, memutuskan untuk melakukan penyetopan Armada Dumt ruck yang melewati akses Jalan Perum Perhutani. Pernyataan itu dikemukakan langsung di hadapan puluhan Aktivis lingkungan Jampang Meta, di Pos Keamanan RPH Karang Bolong, BKPH Jampangkulon, Surade, Rabu (13/5/2020).
"Sudah ada keputusan dari pimpinan bahwa akses jalan Perum Perhutani KPH Karang Bolong Sukabumi ini bisa ditutup. Sesuai dengan keinginan kawan-kawan aktivis lingkungan Jampang Meta, bahwa mulai besok Armada Pengakut Pasir Besi tidak boleh lewat jalan ini. Kami akan pasang Portal," ucap Kepala Sub Seksi (KSS) Hukum Kepatuhan Tenurial dan Agraria (HKTA) KPH Sukabumi, Chendra Eka Pratama, di rest area lokasi kepada wartawan.
![]() |
| Divisi Kepala Sub Seksi (KSS) Kepatuhan Tenurian dan Agraria (HKTA) KPH sukabumi, Chendra Eka Pratama (tengah) usai sampaikan komintmen penutupan jalan Perum Perhutani. |Sumber foto:Ist |
"Ya, imbas dari pada kegiatan keluar masuk Armada pengangkut pasir besi ini dampaknya bisa dilihat dan dirasakan sendiri warga sekitar. Ya, akses jalan ini yang seharusnya diperbaiki dan dirawat. Tapi, ini dibiarkan rusak karena adanya kegiatan Armada yang keluar masuk melalui jalan Perum Perhutani. Dan itu salah satu monitoring kami hari ini disini," jelasnya.
Sementara itu, mewakili aktivis peduli lingkungan Jampang Meta Yudi Pratama menyampaikan, kedatangan kami ke rest area KPH Karang Bolong, untuk mengawal kedatangan pihak Perum Perhutani melalui Divisi KSS HKTA. Kami bersama masyarakat sekitar minta pihak Perum Perhutani untuk mengambil sikap atas adanya aktivitas Armada pengangkut pasir besi yang keluar masuk melalui jalan tersebut.
"Ya, jalan Perum Perhutani KPH Karang Bolong ini di gunakan oleh masyarakat 4 Desa dari dua Kecamatan. Dua desa masuk Kecamatan Surade dan dua desa lainnya masuk Kecamatan Cibitung," kata Yudi.
![]() |
| Aktivis peduli lingkungan Jampang Meta saat jumpa Divisi KSS HKTA KPH sukabumi di Pos KPH karang Bolong.| sumber foto: Istimewa |
Aktivis peduli lingkungan yang mengatas namakan dirinya Jampang Meta tersebut, tergabung dari berbagai Ormas di Wilayah Pajampangan. Diantaranya Ormas Laskar Gempa, Cabang perguruan Sapu Jagat dan Gemuruh Puncak Buluh.
"Kami lahir untuk menyelamatkan bumi, lingkungan dan kekayaan alam yang ada di Wilayah Pajampangan. Perusak alam dan lingkungan harus dilawan. Alam harus lestari dan di pertahankan. Kalau bukan kita siapa lagi," tegas Yudi.
Kehadiran pertambangan di wilayah Pajampangan bukan hanya menggeruk keuntungan semata. Namun, dampak yang ditorehkan menyisakan duka bagi alam, lingkungan serta masyarakat kecil sekitar pertambangan.
"Ya, kehadiran kami sebagai aktivis lingkungan dari Jampang Meta bukan untuk menghalang halangi atau menutup aktivasi kegiatan perusahaan. Namun, silahkan perhatikan lingkungan, infrastruktur yang dilalui. Perusahaan jangan senaknya dewek cuma mengambil keuntungan tapi lingkungan tidak diperhatikan," ungkapnya.


