![]() |
| Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil tengah memberikan kerengan pers usai pembagian sembako di Lapang Merdeka Kota Sukabumi, Sabtu (25/7/2020). | Sumber foto : alan |
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan Provinsi Jawa Barat bagaikan wanita cantik yang galak. Lantaran, dengan berbagai keindahan dari Gunung, Rimba, Laut, Pantai dan Sungai (Gurilaps) sering terjadi bencana.
"Jabar ini kalau ibarat bahasa Inggrisnya dangerous beauty, geulis (cantik) tapi galak," ujarnya disela kegiatan bakti sosial (Baksos) dalam rangka safari evaluasi Covid-19 di Lapang Merdeka Kota Sukabumi, Sabtu (25/7/2020).
Kang Emil mengungkap, intensitas bencana alam di Jawa Barat terbilang tinggi. Dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat sedikitnya 1.200 sampai 1.500 kebencanaan dari berbagai wilayah di Jawa Barat.
"Bencana alam di Jawa Barat mayoritas disebabkan oleh bencana air, seperti banjir dan longsor akibat gempa," ucap istri Atalia Praratya yang dikenal dengan istilah Si Cinta.
![]() |
| Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil membonceng "Si Cinta" usai pembagian sembako di Lapang Merdeka Kota Sukabumi. | Sumber foto : alan |
Sebelumnya, Kang Emil juga melaksanakan rapat evaluasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukabumi di area suspension bridge Situgunung, Kecamatan Kadudampit, Jum'at (24/7/2020).
Ia menekankan, bahwa kebiasaan adaptasi kebiasaan baru harus menjadi komitmen bersama dalam penanganan Covid-19. Jawa Barat masuk kategori yang bisa mengendalikan. Kasus di bawah seratus, padahal jumlah penduduk paling banyak. Untuk Kabupaten Sukabumi masuk kategori yang betpotensi rendah.
"Kabupaten Sukabumi bisa menetapkan Kecamatan zona hijau, sehingga ketika satu Kecamatan terpapar maka satu kecamatan tersebut yang isolasi namun untuk Kecamatan lain bisa melakukan aktivitas dengan melakukan protokol kesehatan," paparnya.
Lanjut Emil, pembukaan sekolah pun akan segera dilakukan secara bertahap. Mulai dari SMK, SMA lalu SMP, SD. Namun protokol di sekolah harus tetap diperhatikan. Anak sekolah dilengkapi dengan kotak plastik itu lebih aman.
"Untuk anak-anak kita harus lebih teliti, nanti kelasnya dibatasi, secara bergiliran, setengah di rumah dan setengah masuk," tandasnya.
Reporter : Alan Kencana
Editor : Surya Adam

