Berita
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Pembangunan Sarana Ari Bersih di Desa Penumbangan Tertunda, Warga Minta MCK Khusus

Written By Samsun Ramlie on Minggu, 16 Agustus 2020 | Agustus 16, 2020

Kepala Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Lalan Jaelani. | Sumber foto: Rendy Wahyudi 
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Merebaknya pandemi Covid-19 atau virus Corona mengakibatkan sejumlah program kerja yang telah disusun oleh pemerintah desa terhambat. 

Pasalnya sebagian anggaran yang awalnya ditetapkan untuk pemberdayaan serta pembangunan, terpaksa dialihfungsikan untuk penanggulangan Covid-19.

Seperti yang terjadi di Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, sebanyak enam titik rencana pembangunan dan pengadaan air bersih terpaksa ditunda akibat pandemi Covid-19. 

"Di kita ada enam titik kerawanan air bersih jika musim kemarau melanda. Antara lain, Kampung Cikadu, Pangantrongan, Cibadong, Pamoyanan, Cilawang, dan Kampung Cijambe," ujar Kepala Desa Panumbangan, Lalan Jaelani, kepada Lingkarpena.id belum lama ini. 
AIR BERSIH: Salah satu sumber air bersih di Kampung Cikadu tampak kering saat musim kemarau tiba. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Ia menjelaskan, sebetulnya sudah diagendakan tahun ini untuk pengadaan sarana air bersih, tetapi berhubung intruksi dari pemerintah harus fokus dahulu ke penanganan Covid. "Makanya hasil Musdesus (Musyawarah Desa Khusus) seolah-olah ditunda," tutur Lalan.

Penundaan pembangunan sarana air bersih tersebut, warga merasa kesulitan mendapatkan air bersih. Apalagi sudah memasuki musim kemarau yang menyebabkan debit air berkurang, sehingga warga harus menyusuri jalan setapak dan berkelok dengan jarak yang bervareatif mulai dari 300 meter, bahkan sampai 1 kilometer dari pemukiman warga.

Warga Kampung Cikadu, Jujun Junaedi, membenarkan di kampungnya memang kekurangan sarana air bersih, bahkan ada sebagian warga yang rela mengeluarkan uang hanya untuk mengisi gentong air dirumahnya guna memenuhi keperluan sehari-hari.

"Di Desa kami khususnya Kampung Cikadu ini memang sangat sulit mendapatkan air bersih, akses menuju sumber air pun lumayan jauh. Hal ini tidak menjadi kendala besar bagi kami warga kampung yang masih kuat untuk mencari sumber air bersih. Namun warga lain yang memiliki keterbatasan serta para lansia yang harus menempuh jalan setapak yang terjal dan berkelok, sangat memprihatinkan," tutur Jujun.

Jujun mewakili warga lainya, berharap ada MCK (Mandi Cuci Kakus) khusus di Kampung Cikadu. Sebab, dari sekitar 95 kepala keluarga 70 persen belum memiliki WC permanen. Selain itu, sambung Jujun agar program pengadaan sumber air di Desa Panumbangan dapat terealisasikan secepatnya.


Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Garis Nurbogarullah

Keren, Pemdes Cimerang Kembangkan Potensi Wisata Goa Kembar

BERBENAH: Pemdes Cimerang, Kecamatan Surabaya, Kabupaten Sukabumi sedang menata destinasi  wisata Goa Kembar. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pemerintah Desa (Pemdes) Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi berencana mengembangkan potensi pariwisata berupa Goa Kembar di Kampung Gunungbuleud.

Nama Goa Kembar sendiri dicetuskan oleh Kepala Desa Cimerang, Nyanyang Resmana, karena terdapat dua lokasi goa yang sama di sana.

Sekretaris Desa Cimerang, Tatang Jaelani mengatakan, dalam pengelolaan Goa Kembar Pemdes Cimerang akan menjalin kerja sama dengan pihak Perhutani. Pasalnya Goa tersebut berada di wilayah kehutanan.

"Kami juga berencana melengkapi destinasi ini dengan fasilitas penunjang lain berupa jembatan penyebrangan tradisional," ujarnya kepada lingkarpana.id

Destinasi wisata goa ini memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan kerajinan khas masyarakat Cimerang, yaitu batu akik Kinyang Cimerang. Bahkan, kata dia, Kinyang Cimerang ini disebut kental dengan sejarah peradaban Desa Cimerang dan menjadi cerita turun temurun di kalangan masyarakat setempat.

Ia menceritakan, dahulu waktu zaman kerajaan Padjajaran ada seorang Puteri Laras Pandan Payung hijrah ke daerah sini. Kedatangannya dikawal oleh senopati serta para punggawa yang membawa gamelan dan singgah di Goa Kembar.

"Nah, batu akik Kinyang Cimerang ini ternyata adalah perhiasan milik Puteri Laras Pandan Layung yang terlepas saat mandi di sungai Cimerang," tuturnya. 

Sampai sekarang, kerajinan berbahan dasar batu alam sudah menjadi penghidupan sebagian masyarakat desa. Mulai dari batu akik, batu aji serta pernak-pernik berbahan batu lainnya. 

"Hasil industri kerajinan berbahan dasar batu alam dan mitos ini bisa menjadi sarana pendukung untuk menarik wisatawan berkunjung ke destinasi Goa Kembar," pungkasnya. 


Reporter : Rendy wahyudi
Editor: Alan Kencana 

Pemdes Warungkiara Sulap Embung Desa Jadi Destinasi Wisata Situ Halimun

INOVASI: Destinasi Wisata Situ Halimun di Kampung Halimun, Desa Warungkiara, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi yang menjadi program unggulan desa. | Sumber foto: Wafik Hidayat
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pemerintah Desa (pemdes) Warungkiara, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi manfaatkan embung desa menjadi destinasi wisata Taman Situ Halimun dan menjadikannya sebagai program unggulan desa. Bahkan, dalam dua tahun ini sudah dibangun sejumlah fasilitas penunjang wisata.   

Embung desa yang berlokasi di Kampung Halimun Desa Warungkiara ini, dapat ditempuh dalam waktu lima menit dari jalan utama. Untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi, Pemdes Warungkiara berencana akan membuat wahana permainan air di Taman Situ Halimun tersebut.

Sekertaris Desa Warungkiara, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Yandi Sopiandi, mengatakan destinasi wisata Taman Situ Halimun ini menjadi program prioritas Desa Warungkiara. 

"Destinasi wisata Taman Situ Halimun ini lokasinya strategis, berada di pinggir jalan dan tidak jauh dari jalan utama. Makanya kita prioritaskan pembangunannya," ujar Yandi kepada lingkarpena.id

Fasilitas destinasi wisata tersebut, kata Yandi, dibangun menggunakan dana Program Peningkatan Partisipasi Kecamatan (P3K) Warungkiara selama dua kali penganggaran dua tahun terakhir. 

"Untuk tahun 2019 kita mendapatkan anggaran P3K sebesar Rp400 juta, kemudian untuk tahun 2020 sebesar Rp300 juta. Jadi total anggaran keseluruhan sebesar Rp700 juta. Semuanya kita alokasikan untuk destinasi wisata Taman Situ Halimun," tutur Yandi. 

Lanjut Yandi, tahun depan rencananya akan kembali menggunakan anggaran P3K itu untuk membuat wahana bermain air agar menarik pengunjung lebih banyak lagi. "Kita sudah bicarakan dengan Kecamatan Warungkiara," jelasnya.

Sementara untuk pengelolaanya, Pemdes Warungkira akan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Karangtaruna Desa Warungkiara. Sedangkan untuk kewenanganya akan diatur agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pengelolaanya nanti.

"Apabila dimaksimalkan destinasi wisata ini kami berharap akan berdampak baik terhadap ekonomi warga sekitar," pungkasnya.


Reporter : Wafik Hidayat 
Editor : Garis Nurbogarullah

Terima Hibah Rp50 Juta, PK-KNPI Jampangtengah Bangun Lapangan Sepakbola

DANA HIBAH: Serah terima dana hibah untuk pembangunan lapang sepakbola kecamatan dari donatur Deden Deni Idris (kanan) pada Ketua PK KNPI Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Riyandi. | Sumber foto: Rendy Wahyudi.
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Kecamatan Jampangtengah Kabupaten Sukabumi sampai saat ini belum memiliki fasilitas alun-alun di ibukota kecamatannya. Hal ini mengundang munculnya gagasan Pengurus Kecamatan Komite Nasional Pemuda Indonesia (PK-KNPI) Kecamatan Jampangtengah untuk pengadaan alun-alun.

Gagasan tersebut mendapat respon baik dari berbagai pihak. Mulai dari masyarakat, pemerintahan, maupun simpatisan dan para donatur. Terbukti Selasa 11 Agustus 2020 lalu, tepatnya di Aula Kantor Kecamatan Jampangtengah, PK KNPI menggelar acara serah terima bantuan terkait pembangunan lapangan sepakbola, yang ke depannya akan dipadukan dengan pengadaan alun-alun.

Bantuan tersebut bersumber dari dana hibah yang diserahkan langsung oleh ahli waris dari keluarga Ohir (almarhum), keluarga H. Muhammad Basyar (almarhum), dan keluarga H. Jeje (almarhum) yaitu Deden Deni Idris kepada ketua PK KNPI Kecamatan Jampang Tengah, Riyandi dengan nominal sebesar Rp50 juta.

Dengan adanya bantuan tersebut Camat Jampangtengah, Sabar Suko, yang hadir pada kesempatan itu berharap agar pihak PK-KNPI mampu memanfaatkan hibah sebaik mungkin.

"Mudah-mudahan bantuan ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pengurus KNPI, sekaligus mampu menjadi stimulus untuk terus berkarya demi kebaikan bersama," kata dia.

Sementara itu, Ketua PK KNPI Jampangtengah, Riyandi atau yang akrab disapa Apek ini menyampaikan terima kasih kepada pihak pemberi sumbangan. Ia juga menegaskan akan segera merealisasikan anggaran yang diterima secara bertahap.

"Anggaran yang kami terima ini akan direalisasikan secepatnya untuk pembangunan alun-alun yang nantinya akan diproses secara bertahap dan pengadaan lapangan sepakbola merupakan langkah awal dari kami," ungkap Apek.


Reporter : Rendy wahyudi
Editor : Garis Nurbogarullah

Desa Kertaangsana Gandeng Perhutani Kembangkan Potensi Wisata

DESTINASI WISATA: Goa Buniayu salah satu destinasi wisata di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung yang berada di lahan Perhutani.| Sumber foto: Rendy Wahyudi
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Upaya meningkatkan perekonomian masyarakat, Pemerintah Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi menggandeng Perhutani dalam pengelolaan potensi wisata di wilayahnya. 

Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Dindin Wijaya mengatakan, di desanya terdapat dua destinasi wisata yang masuk wilayah Perusahaan Umum (Perum) Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani). 

Kedua objek wisata itu adalah Curug Bibijilan berlokasi di Kampung Lebaknangka dan Goa Buniayu atau Goa Siluman di Kampung Cipicung Desa Kertaangsana. 

"Dua destinasi wisata ini yang paling menonjol di desa kami. Keduanya berlokasi di lahan milik Perhutani dan sejauh ini masih dikelola oleh Perhutani," ujarnya kepada lingkarpena.id, ditemui di kantornya belum lama ini. 
Kantor Kepala Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Meski demikian, dalam pelaksanaannya desa dan Perhutani sudah bekerja sama terkait pengembangan ke depan. Sementara pengelolaan di lapangan, selain desa sudah banyak juga yang terlibat, seperti Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) yang turut berperan aktif. 

"Di lapangan, kami sudah ada MoU (memorandum of understanding atau nota kesepahaman) dengan perhutani, kompepar dan masyarakat sekitar terkait penataannya," tuturnya. 

Selain itu, ia mengatakan sedang mengupayakan kelengkapan sarana prasarana berikut akses jalan yang belum maksimal. "Kami harap semua pihak bisa menjalin kerja sama yang baik demi kelancaran pengembangan wisata di desa ini," harapnya. 

Terpisah, Kepala Resort Polisi Hutan Ciguha, Usu Juarsa mengatakan, Perhutani sebisa mungkin memaksimalkan kinerja dalam mengelola kedua destinasi wisata tersebut. Di antaranya dengan melakukan inovasi baru dalam konteks pemanfaatan lokasi wisata. 

"Kami selaku pengelola berupaya sebisa mungkin menjaga keasrian destinasi wisata ini. Sementara upaya pengembangan, di destinasi ini juga telah dibuka penawaran resepsi pernikahan dengan konsep outdoor," paparnya. 

Namun begitu, ia mengaku masih sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah. Terutama terkait kelengkapan sarana prasarana berikut akses jalan yang masih perlu dibenahi. 

"Terlepas dari tanggung jawab pengelola, dukungan pemerintah daerah masih sangat dibutuhkan untuk pengembangannya," pungkas dia. 


Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Surya Adam 

Sering Gagal Panen, Desa Sirnajaya Butuh Irigasi Khusus

Written By Samsun Ramlie on Kamis, 13 Agustus 2020 | Agustus 13, 2020

Kantor Kepala Desa Sirnajaya, Kacamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto : Wafik Hidayat
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pemerintah Desa Sirnajaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi meminta pemerintah daerah membangun irigasi khusus menuju embung Situ Halimun. Hal itu untuk menambah debit air saat musim kemarau.

Kepala Desa Sirnajaya Kecamatan Warungkiara, Dirma Sudirman mengatakan, pertanian merupakan potensi utama desa, akan tetapi saat ini area pertanian hanya produktif di musim hujan.

Embung Situ Halimun merupakan sumber utama pengairan pertanian warga di desanya. Namun pada saat kemarau, embung ini tidak teraliri air sehingga debitnya sangat sedikit. Kondisi ini berimbas pada gagal panen musim lalu. 

"Saat kemarau lahan pertanian terutama pesawahan tidak dapat dialiri air sama sekali, akibatnya setiap musim kemarau selalu gagal panen," ungkapnya kepada lingkarpena.id, Kamis (13/8/2020). 
Kepala Desa Sirnajaya, Kecamatan Warungkiara, Dirma Sudirman. | Sumber foto : Wafik Hidayat 
Dengan kondisi demikian, ia menyarankan pemerintah daerah khususnya Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Sukabumi agar membangun irigasi khusus menuju embung untuk meningkatkan debit air. 

"Ketika debit air menuju embung bertambah, otomatis air yang di tampung embung pun akan bertambah, sehingga mampu mengaliri lahan pertanian di musim kemarau sekalipun," tuturnya.

Menurutnya, embung Situ Halimun diperuntukan untuk mengaliri irigasi Desa Tarisi. Sedangkan saat ini irigasi Desa Sirnajaya mengandalkan tampungan air dari kebocoran irigasi Desa Tarisi.

"Masalahnya kebocoran irigasi Desa Tarisi sedang diperbaiki, dampaknya tidak akan ada lagi kebocoran air yang dapat di tampung oleh irigasi desa kami," keluhnya. 

Hingga saat ini pemdes Sirnajaya sudah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Warungkiara, guna mencari solusi terkait masalah ini.

"Kami sudah berbicara dengan pihak camat. Dan menurut informasi pak camat juga sudah berkomunikasi dengan PSDA, tinggal nunggu hasilnya," ucapnya.

Dia melanjutkan, PSDA dapat sesegera mungkin membangun irigasi khusus tersebut. Supaya potensi pertanian di desanya dapat dimaksimalkan.

"Mayoritas warga merupakan petani, untuk PNS serta yang lain paling cuma 5 persen, jadi sumber air untuk pertanian sangat dibutuhkan, saya berharap ini menjadi pertimbangan PSDA agar keinginan ini segera dipenuhi," pungkasnya. 


Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam 


Desa Nyalindung Dongkrak Produk Kopi Unggulan Melalui BUMDes

PRODUK UNGGULAN: Kopi Desa Nyalindung salah satu produk unggulan Desa Nyalindung. | Sumber foto : Rendy Wahyudi
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pemerintah Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi berupaya mendongkrak potensi usaha di bidang pertanian. Di antaranya dengan mengembangkan produk kopi unggulan khas desa setempat. 

Kepala Desa Nyalindung, U Jamjuri melalui Kepala Dusun Wilayah I, Kosasih mengatakan, pemerintah desa saat ini sedang fokus mendorong Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk mengembangkan usaha di bidang pertanian kopi.

Varietas ini dinilai memiliki potensi besar menjadi salah satu produk unggulan desa. 

Keseriusan pemerintah desa mendorong usaha ini, kata Kosasih, di antaranya telah dibangunnya kebun desa di Kampung Cirawa RT 03/05 desa setempat. Hasil dari kebun desa ini nantinya akan dikelola oleh Bumdes. 

"Sebagai langkah awal, kita sudah membangun kebun desa yang salah satu jenisnya adalah kopi. Bahkan saat ini sudah mulai masuk tahap proses produksi," ungkapnya kepada lingkarpena.id, Kamis (13/8/2020). 
PELAYANAN: Salah seorang staf Desa Nyalindung standby pelayanan masyarakat di kantor desa. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Pengembangan selanjutnya, ia menggambarkan hasil olahan kopi ini nantinya akan dipasarkan di kedai dan cafe kopi. Pemasaran mulai dari daerah terdekat kemudian meluas hingga kalau bisa sampai ke luar negeri.

Meski produksi sejauh ini masih dalam skala kecil, namun kwalitas produk kopi terbilang bisa bersaing. Terbukti beberapa waktu lalu sudah dilakukan uji sample langsung oleh barista di salah satu cafe kopi di Kota Sukabumi, dan hasilnya cukup memuaskan. 

"Untuk jenis kopi yang kami gunakan yaitu jenis arabika dengan merk produk Kopi Desa Nyalindung. Kami berharap produk kopi kami bisa bersaing di kelasnya," kata pria yang akrab di sapa Cosmin menutup pembicaraan. 


Reporter : Rendy Wahyudi 
Editor : Surya Adam

Pemdes Sukamaju Apresiasi Bantuan Rutilahu Yayasan Muslim Asia

Written By Samsun Ramlie on Rabu, 12 Agustus 2020 | Agustus 12, 2020

RUTILAHU: Aparatur Desa Sukamaju beserta perwakilan Kecamatan Cikakak foto bersama dengan pihak Yayasan Muslim Asia di rumah milik Bani yang baru selesai dibangun. | Sumber foto: Wafik Hidayat
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pemerintah Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi mengapresiasi bantuan pembangunan rumah tidak layak huni (Rutilahu) oleh Yayasan Muslim Asia kepada dua warganya. 

Kedua rumah yang mendapat bantuan yaitu milik Bani di Kampung Sumurbandung RT 07/06 serta Masriah di Kampung Babakanasem RT 04/04 Desa Sukamaju. 

Kepala Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Empang Sopiandi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi bantuan pembangunan rutilahu dari yayasan yang berkantor di Jakarta tersebut. Kedua rumah sudah selesai dibangun bulan Juli kemarin. 

"Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Muslim Asia yang sudah membangun dua rumah warga kami, hal itu sangat membantu sekali," ungkapnya kepada lingkarpena.id, Kamis (13/08/2020). 

Lanjutnya, pelaksanaan pembangunan kedua rumah tersebut seluruhnya dilakukan oleh pihak yayasan. Ia hanya merekomendasikan rumah warga mana sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan yayasan. 

"Untuk teknis pengerjaan yayasan yang atur, desa hanya merekomendasikan rumah mana yang sesuai spesifikasi dari yayasan. Menurut pihak yayasan, rumah Bapak Bani dan Ibu Masriah itu sudah sesuai dengan yang diinginkan," tuturnya. 

Menurutnya, alasan pemdes memilih dua rumah tersebut karena secara fisik sangat mengkhawatirkan. Selain temboknya terbuat dari bilik, rumah tersebut pun terlihat akan ambruk.

"Kalau melihat fisik bangunan kedua rumah tersebut sangat mengkhawatirkan sekali, bahkan terlihat seperti akan ambruk. Padahal masing-masing rumah dihuni oleh lima orang," terangnya. 

Ia berharap, kerja sama yang baik antara pemdes dengan Yayasan Muslim Asia ini dapat berlanjut, agar manfaat kerja sama tersebut dapat dirasakan warganya lebih banyak lagi.

"Semoga ke depan bantuan masih terus berlanjut, tidak hanya sebatas sekarang saja. Karena masih banyak warga lain yang rumahnya masih dalam kondisi tidak layak hunj," harapnya. 


Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam 

Jasad Korban Tenggelam Curug Cipatala Ditemukan Mengambang

EVAKUASI: Tim Sar gabungan dibantu warga sekitar mengevakuasi jasad korban tenggelam Curug Cipatala Desa Panumbangan, Rabu (12/8/2020). | Sumber foto: ist.
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Setelah tujuh jam dilakukan pencarian, Asep (40) korban tenggelam di Curug Cipatala Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah akhirnya ditemukan warga dalam keadaan tidak bernyawa sekitar pukul 21.58 WIB, Rabu (12/8). 

Saat ditemukan, jasad korban yang tercatat sebagai warga Kampung Bojongtipar RT 04/03 Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi ini dalam kondisi kaku dan hanya mengenakan pakaian dalam. 

Informasi yang dihimpun, kejadian tenggelam diperkirakan sekitar pukul 14.40 WIB, Rabu. Saat itu korban datang ke Curug Cipatala bersama tiga orang anak. Satu di antaranya merupakan anak korban yang masih berusia sekitar 11 tahun.

Belum diketahui secara pasti kronologis peristiwa nahas tersebut, lantaran sampai saat ini saksi mata masih dalam kondisi syok dan belum bisa dimintai keterangan. Namun diduga, korban tenggelam akibat terpeleset saat berenang di tempat kejadian musibah. 

Satu di antara warga yang membantu pencarian, Muldani (56) mengatakan, belum diketahui secara pasti penyebab tenggelamnya korban. Saksi mata yang masih usia belia belum bisa diajak bicara sampai sekarang. 

"Yang saya tahu ada beberapa orang pengunjung (Curug Cipatala) yang melaporkan pada warga setempat bahwa ada anak menangis. Ketika ditanya ternyata bapaknya tenggelam. Jadi diduga korban tenggelam saat hendak mandi," ujarnya kepada lingkarpena.id, Rabu (12/8).

Jasad korban, kata dia, ditemukan muncul sendiri ke permukaan di sekitar curug karena warga diimbau agar tidak melakukan penyelaman guna menghindari korban tambahan. Terlebih tadah curug ini berbentuk danau kecil sehingga diperkirakan jasad tidak akan terbawa arus sungai. 

"Meski proses evakuasi terbilang alot karena kurang sarana dan alat pendukung lain, tapi yang lebih penting sekarang korban sudah ditemukan, sudah dievakuasi. Kemudian oleh pihak kepolisian dan BPBD selanjutnya di bawa ke rumah duka," pungkasnya. 


Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Surya Adam 

Pelayanan Sengketa Pilkada Sukabumi 2020 Bisa Melalui Aplikasi SIPS

Written By Samsun Ramlie on Rabu, 05 Agustus 2020 | Agustus 05, 2020

SOSIALISASI: Bawaslu Kabupaten Sukabumi tengah menyosialisasikan penyelesaian sengketa Pilkada Sukabumi 2020. | Sumber foto: ist. 
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sukabumi mengenalkan aplikasi Sistem Informasi Penyelesaian Sengketa (SIPS) pada masyarakat. Aplikasi ini merupakan program pelayanan sengketa pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi 2020.

Ketua Bawaslu Kabupaten Sukabumi Teguh Harianto mengatakan, SIPS adalah sistem informasi manajemen perkara yang progresif. Sebab, dalam SIPS ini tidak hanya memuat putusan hasil sidang sengketa saja. Tapi juga mencakup tindak lanjut permohonan, mulai dari informasi status permohonan, jadwal sidang, hingga putusan.

"Bawaslu mempersiapkan aplikasi SIPS untuk mempermudah pelayanan proses setiap permohonan sengketa dalam Pilkada serentak 2020," ungkapnya saat sosialisasi penyelesaian sengketa pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi Tahun 2020 di Hotel Selabintana Sukabumi, Rabu (05/08/2020).

Selain mengenalkan program SIPS, ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dalam pengawasan Pilkada Sukabumi. Di antaranya dengan memberikan pemahaman mengenai penyelesaian sengketa pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi Tahun 2020.

"Kita berikan penjelasan teknis secara komprehensif terkait pelaksanaan penyelesaian sengketa pemilihan Bupati dan Wakil Bupati. Serta menyamakan pemahaman terhadap ketentuan yang terdapat dalam Perbawaslu Nomor 2 Tahun 2020," paparnya.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan simulasi bagi peserta dalam pembuatan permohonan penyelesaian sengketa pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi Tahun 2020 melalui aplikasi SIPS.


Reporter : Alan/bbs
Editor : Surya Adam


Anggaran Terbatas, Desa Boyongsari Terapkan Skema Prioritas Pembangunan

Sekretaris Desa Boyongsari, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Sofwan Syah Saori. | Sumber foto : Wafik Hidayat
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Desa Boyongsari Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi menerapkan skala prioritas untuk melaksanakan pembangunan di wilayahnya. Hal itu guna meminimalisir kesalahpahaman dengan warga yang merasa belum tersentuh pembangunan.

Sekretaris Desa Boyongsari Kecamatan Bantargadung Sofwan Syah Saori mengatakan, pemerintah desanya saat ini mengatur pembangunan dengan sistem skala prioritas. Sebab dengan keterbatasan anggaran yang ada di desa, tidak bisa membangun langsung secara keseluruhan ajuan masyarakat.

"Jadi sistemya pada saat Musdes atau Musdus kita buat seperti direngking, nanti yang akan diutamakan pelaksanaanya berdasarkan urutan teratas. Tentu hal ini sudah disetujui bersama saat itu," kata Sofwan kepada lingkarpena.id, Kamis (6/8/2020).

Kantor Kepala Desa Boyongsari, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto : Wafik Hidayat
Menurutnya, pengaturan ini dilakukan karena banyak warga menganggap pembangunan infrastruktur di wilayahnya tidak diprioritaskan, dan lebih mementingkan wilayah lain. Imbasnya membuat sebagian masyarakat menilai tidak baik terhadap kinerja pemerintah desa.

"Sempat ada warga mengunggah infrastruktur di wilayahnya yang belum dibangun melalui media sosial, kejadian itu sempat ramai karena dibarengi kata-kata tidak baik bahkan cenderung kasar," ungkapnya.

Padahal, lanjut Sofwan, pemerintah desa sangat ingin memenuhi semua keinginan warganya terkait pembangunan infrastruktur. Akan tetapi anggaran yang dimiliki tidak mungkin cukup untuk membangun semua secara bersamaan.

"Kita juga ingin semua sarana infrastruktur dapat dibangun secepatnya, tetapi semuanya itu terbentur oleh dana desa yang sangat terbatas," jelasnya.

Dengan begitu, ia mengimbau agar warga bersabar dan berperan aktif dalam kegiatan Musdes dan Musdus. Sehingga nantinya tidak ada lagi kesalahpahaman terkait pelaksanaan pembangunan di Desa Boyongsari.

"Saya harap warga yang kritis itu mau hadir ketika ada kegiatan Musdes atau Musdus, jadi mereka tahu wilayah mana yang pembangunanya akan diutamakan terlebih dahulu," tandasnya.


Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Wafik Hidayat


Bawaslu Proses Dugaan Pelanggaran Kode Etik ASN di Pilkada Sukabumi 2020

Ketua Bawaslu Kabupaten Sukabumi, Teguh Harianto. | Sumber foto : ist.
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sukabumi memanggil empat orang saksi dugaan pelanggaran kode etik aparatur sipil negara, Selasa (4/8/2020). Keempat orang saksi ini dari unsur elit politik, ASN dan unsur media massa.

Pemanggilan saksi terkait dugaan keterlibatan aparatur sipil negara pada penyelenggaraan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi 2020.

Ketua Bawaslu Kabupaten Sukabumi, Teguh Harianto membenarkan pemanggilan empat orang saksi dugaan pelanggaran kode etik ASN tersebut. Tujuannya untuk meminta keterangan dan  klarifikasi terhadap dugaan pelanggaran kode etik ASN.

"Ya, kita melakukan pemanggilan saksi untuk dimintai keterangan dan klarifikasi dugaan pelanggaran kode etik ASN," ujar Teguh kepada wartawan di kantornya.

Keempat orang saksi tersebut, kata Teguh, dicecar 13 pertanyaan terkait dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh salah satu ASN di Kabupaten Sukabumi. Rencananya, ASN bersangkutan pun akan diundang ke kantor Bawaslu untuk diminta klarifikasi.

"Intinya, Bawaslu sedang melakukan proses terkait dugaan pelanggaran kode etik ASN," tandasnya.

Bawaslu Kabupaten Sukabumi sampai saat ini sudah menangani dua temuan mengenai dugaan pelanggaran kode etik ASN. Terkait ASN itu, kata Teguh, tentu jelas dasar hukumnya. Baik di PP Nomor 42 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin ASN.

Adapun sebagai dasar aturan Pilkada itu di Undang-Undang Pilkada Nomor 10 Tahun 2016, pasal 71 tentang ASN, juga pasal 70 selanjutnya pasal 71 ayat 1.

"Dari mulai kepala daerah, wakil kepala daerah sampai dengan TNI, Polri, ASN, kepala desa dan aparaturnya tidak boleh melakukan tindakan yang menguntungkan dan merugikan salah satu pasangan calon," pungkasnya.


Reporter : Alan/bbs
Editor : Surya Adam


Infrastruktur Jalan Dibangun, Pemdes Mangunjaya Apresiasi Pemerintah Daerah

Kantor Kepala Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Wafik Hidayat
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pemerintah Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi mengapresiasi pemerintah daerah yang telah memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan di wilayahnya.

Pembangunan ruas jalan ini dinilai berdampak positif terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Terutama pertanian yang merupakan mata pencaharian utama warga Desa Mangunjaya.

"Kami sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang telah memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan di desa kami," ucap Sekretaris Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Nandang Mulyana kepada lingkarpena.id, Rabu (5/8/2020).

Sekretaris Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Nandang Mulyana. | Sumber foto : Wafik Hidayat
Menurutnya, pembangunan ruas jalan kabupaten Cicareuh-Bumisari ini sudah lama ditunggu masyarakat, karena merupakan jalur utama transportasi perekonomian warga di desanya.

"Sekarang keinginan warga tersebut sudah terwujud, berkat dukungan pemerintah daerah serta kerja keras kepala desa dan aparatur pemerintah desa lainnya," tukasnya.

Nandang menjelaskan, infrastruktur jalan kabupaten yang sudah dibangun di wilayahnya sepanjang 3,275 kilometer. Semua pembangunan itu di ruas jalan Cicareuh-Bumisari Desa Mangunjaya sejak tiga tahun ke belakang sampai sekarang.

"Awalnya dibangun sepanjang 450 meter di Kampung Cibuhung pada tahun 2018. Kemudian tahun 2019 sepanjang 975 meter di RW 03 Kampung Mangunjaya dan 850 meter di Kampung Cinyukcruk. Terakhir tahun 2020 ini di RW 04 Kampung Mangunjaya sepanjang 1 kilometer," paparnya.

Ia mengatakan, ruas jalan kabupaten yang rusak parah hanya sersisa satu kilometer lagi di Kampung Cibeber. Sementara rusak ringan sepanjang 2 kilometer disepanjang ruas Cicareuh-Buniasih.

"Harapan kami pembangunan jalan bisa dilanjutkan kembali. Ruas jalan yang masih rusak berat segera dibangun dan yang rusak ringan diperbaiki," pungkasnya.


Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam


Jalan Amburadul Hambat Perkembangan Ekonomi Desa Nangerang

Kantor Kepala Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi memiliki potensi yang melimpah. Mulai dari sektor pariwisata, pertanian, peternakan hingga pengrajin perabot dapur serta produksi bahan makanan.

Namun ragam potensi desa ini sulit berkembang karena terkendala beberapa faktor. Satu di antara kendala yang paling menghambat adalah kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah.

"Potensi Desa Nangerang cukup banyak, namun untuk pengembangannya sendiri terbilang sulit imbas dari akses jalan yang rusak parah," ungkap Kepala Desa Nangerang, Sopyan kepada lingkarpena.id di kantornya, Rabu (5/8/2020).

Kepala Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Sopyan di kantornya. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Salah satu potensi wisata misalnya ada Curug Cikurutug yang sempat dijadikan lokasi syuting acara Si Bolang beberapa waktu lalu. Potensi sektor lain seperti produksi tahu dan tempe, pengrajin alat dapur berbahan aluminium, hasil bumi dan lainnya.

"Beberapa potensi itulah yang terhambat pengembangannya, terutama untuk tranportasi pengiriman hasil produksi dan pemesanan bahan baku. Biaya tranportasi pun lebih mahal," tuturnya.

Ia berharap, ruas jalan Bojongjengkol-Miramontana yang berstatus jalan kabupaten ini lekas diperbaiki. Mengingat jalan ini merupakan akses tranportasi vital penghubung Kecamatan Jampangtengah dan Kecamatan Purabaya.

"Akses jalan ini bila diperbaiki bisa membantu perkembangan perekonomian Desa Nangerang secara tidak langsung," ucapnya.

Salah satu pengrajin peralatan rumah tangga di Desa Nangerang, Surahman mengaku kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Sebab akses jalan rusak menghambat pemasaran produk miliknya.

Sejauh ini pemasaran hanya bergantung pada pesanan yang dekat saja, itupun tidak tentu dan jumlahnya tidak banyak. "Pesanan yang jauh ada lumayan sebenarnya, cuma jarang yang mau datang ke sini dengan alasan jauh dan jalan jelek," keluhnya.


Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Surya Adam


Bapenda Bebaskan Denda Pajak Kendaraan Sampai Akhir Tahun Ini

PELUNCURAN: Bapenda Jabar meluncurkan program triple untung plus bagi pemilik kendaraan bermotor. | Sumber foto : ist.
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Barat memberlakukan program triple untung plus hingga akhir tahun 2020. Program ini merupakan pengembangan dari program triple untung sebelumnya.

Kepala Pusat Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Sukabumi, Tedy Maryadi mengatakan, program triple untung kali ini dinamai triple untung plus. Karena selain membebaskan denda pajak kendaraan, bea balik nama dan tarif progresif pokok tunggakan pajak, juga diberikan diskon pajak kendaraan bermotor.

"Program triple untung plus ini berlaku mulai tanggal 1 Agustus sampai 31 Desember 2020," ungkapnya dilansir di portal resmi Pemerintah Kota Sukabumi, Rabu (5/8/2020).

Tedy menjelaskan, pemberian diskon pajak kendaraan bermotor pada program ini diberikan dengan besaran yang berbeda sesuai waktu pembayaran. Jika pemilik kendaraan bermotor membayar pajak 30 hari sebelum jatuh tempo, maka akan diberikan diskon sebesar 2 persen.

Diskon sebesar 4 persen diberikan untuk pembayaran maksimal 60 hari sebelum jatuh tempo, diskon 6 persen untuk pembayaran maksimal 90 hari, 8 persen untuk pembayaran maksimal 120 hari dan diskon 10 persen untuk pembayaran 180 hari sebelum jatuh tempo.

Dengan begitu, ia mengimbau pada masyarakat untuk tertib membayar pajak kendaraan bermotor yang dimiliki. Sebab, dari pajak tersebut akan dikembalikan pada masyarakat dalam berbagai program pembangunan, termasuk penanggulangan Covid-19.

"Kami harap masyarakat tertib dalam membayar pajak kendaraan bermotor," pungkasnya.


Reporter : Alan
Editor : Surya Adam

Perjuangan Guru SDN Batusapi Harus Datangi 293 Siswa Belajar Luring

SEPI: SDN Batusapi Desa Cibodas, Kecamatan Palabuhanratu tampak sepi tak ada aktivitas sekolah tatap muka. | Sumber foto: Wafik Hidayat
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Sesuai instruksi pemerintah, SDN Batusapi Desa Cibodas, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi belum melakukan sekolah tatap muka. Namun demikian sistem pembelajaran daring pun tidak bisa diterapkan karena berbagai kendala.

Kepala Sekolah SDN Batusapi Desa Cibodas, Dodi Setiabudi mengatakan, pihaknya saat ini menerapkan sistem belajar luring (offline) kepada siswanya. Sebab jika menggunakan daring (online) masih banyak kendala rumit yang tidak bisa dipaksakan.

"Daring tidak bisa, banyak kendala yang cukup rumit, mulai dari siswa tak memiliki gawai hingga tidak adanya sinyal telepon dan internet," ujarnya kepada lingkarpena.id, Rabu (5/8/2020).

Kepala Sekolah SDN Batusapi, Desa Cibodas, Kecamatan Palabuhanratu, Dodi Setiabudi saat ditemui lingkarpena.id di sekolahnya. | Sumber foto: Wafik Hidayat
Dodi menjelaskan, ia sudah mengatur teknis pelaksanaan pembelajaran luring yang diterapkan pada siswanya. Yaitu dengan membagi satu kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang akan didatangi oleh masing-masing guru kelas. 

"Satu kelompok belajar diisi oleh lima orang siswa, nantinya guru berkeliling mengajar ke masing-masing kelompok itu. Cape sih memang, tapi harus bagaimana lagi," ungkapnya. 

Menurutnya, jumlah siswa yang harus mendapatkan pengajaran di tahun ajaran 2020 ini sebanyak 293 orang yang tersebar dibeberapa wilayah Desa Cibodas. Dengan demikian hampir 60 kelompok belajar yang harus disambangi guru.

"Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan guru menghadapi situasi ini, mereka harus ke sana kemari supaya semua muridnya mendapatkan pembelajaran," jelas pria yang hobi berkendara menggunakan sepeda motor vespa ini. 

Ia berharap situasi Pandemi Covid-19 bisa segera berlalu, agar sistem pendidikan yang dilaksanakan bisa berjalan maksimal dan efektif. 

"Saya sih ingin kegiatan belajar mengajar tatap muka bisa segera dilaksanakan, kasihan juga guru harus mengajar ke sana kemari, mending kalau lokasinya dekat, kalau jauh kan repot juga," pungkasnya. 


Reporter : Wafik Hidayat

Editor : Surya Adam 

Kampung Ramah Anak Solusi Desa Tegallega Tingkatkan Kualitas SDM

Written By Samsun Ramlie on Selasa, 04 Agustus 2020 | Agustus 04, 2020

PENCANANGAN: Kampung Tegallega, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong dicanangkan sebagai Kampung Ramah Anak. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Kampung Tegallega, Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi dicanangkan sebagai Kampung Ramah Anak. Penetapan dimaksud untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa tersebut.

Kepala Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Fuad Abdulatif mengatakan, pembangunan kampung ramah anak ini diprakarsai Pemerintah Desa Tegallega bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi.

"Kronologis dibentuknya kampung ramah anak berawal dari banyaknya jumlah anak di desa kami yang mencapai sekitar 1.700 anak, mulai dari jenjang pendidikan SD sampai SLTA," kata Fuad kepada lingkarpena.id, Rabu (5/8/2020).

SDN Tegallega Desa Tegallega telah dicanangkan sebagai sekolah ramah anak. | Sumber foto: Rendy Wahyudi
Ditambah banyaknya curhatan masyarakat terkait anak-anak mereka yang kecanduan gadjet dan game online. Sehingga ia mengatakan berupaya mengurangi dampak negatif dari hal-hal tersebut dan mulai menjalin kerja sama dengan dinas P3A.

Penetapan Kampung Tegallega sebagai kampung ramah anak ini pun dinilai tepat, karena di kampung ini terdapat beberapa sarana penunjang. Di antaranya SDN Tegallega yang kemudian dinobatkan sebagai sekolah ramah anak, taman bermain ramah anak yang dilengkapi Alat Permainan Edukatif (APE), serta lapang sepak bola.

"Kampung ramah anak ini sudah diresmikan dan launchingnya pada tanggal 7 Juli 2020, dihadiri oleh Ibu Bupati Sukabumi, Sekda, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas P3A serta jajaran lain," paparnya.

Adapun sekolah ramah anak, lanjut Fuad, bertujuan sebagai upaya pemenuhan hak-hak anak oleh pihak sekolah dengan mengedepankan keselamatan, kenyamanan dan perkembangan mental anak.

"Pada prosesnya sekolah ramah anak tidak terlepas dari konteks gatriktandungdik, yang artinya kegiatan menarik tetapi mengandung pendidikan," kata dia.

Dengan begitu, ia berharap, keberadaan kampung ramah anak ini bisa membantu kinerja desa dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"Sebagus apapun pembangunan fisik, entah itu infrastruktur maupun potensi desa yang banyak, semua akan percuma jika sumber daya manusianya lemah," tandasnya.


Reporter : Rendy wahyudi
Editor : Surya Adam


Blank Spot Sinyal, MI Pangguyangan Terapkan KBM Tatap Muka Terbatas

Kepala Sekolah MI Pangguyangan Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Dedih di kediamannya, Selasa (4/8/2020). | Sumber foto: Wafik Hidayat
Lingkapena.id, SUKABUMI - Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pangguyangan Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi menerapkan sekolah tatap muka terbatas pada tahun ajaran baru ini.

Pasalnya, letak geografis sekolah berada di daerah tidak tersentuh sinyal komunikasi (blank spot). Baik untuk komunikasi analog seperti jaringan telepon maupun komunikasi digital seperti jaringan internet.

"Proses pembelajaran tatap muka ini diinisiasi sekolah dan telah disepakati bersama wali murid saat awal rapat penerimaan murid baru, tapi waktunya tetap dibatasi," kata Kepala Sekolah MI Pangguyangan, Dudih kepada lingkarpena.id, Selasa (4/8/2020).

Menurutnya, anjuran pemerintah agar menerapkan sistem pembelajaran daring tidak bisa dilakukan di sekolahnya. Letak Kampung Pangguyangan yang berada di bawah kaki Gunung Halimun membuat daerah ini blank spot sinyal.

"Di Pangguyangan ini tidak ada sinyal telepon maupun jaringan internet, makanya kita siasati dengan pembelajaran luring, agar proses KBM tidak terbengkalai," paparnya.

Dudih menjelaskan, penerapan sekolah tatap muka di sini tidak sepenuhnya dilaksanakan di dalam ruang kelas. Fungsinya hanya untuk memberi tugas dan memeriksa hasilnya.

"Paling cuma satu sampai dua jam saja di ruang kelas, itupun hanya memeriksa dan memberikan tugas rumah. Sisa jamnya kita lakukan di area bermain sampai pukul 10.00 WIB," tuturnya.

Jumlah siswa di MI Pangguyangan hanya sebanyak 115 orang dan merupakan warga setempat di empat RT. Sehingga bisa terkontrol ketika kebijakan tatap muka dilakukan.

"Karena tidak ada siswa dari luar Kampung Pangguyangan dan proses KBM pun dibatasi, kami rasa semuanya akan baik-baik saja," tandasnya.


Reporter: Wafik Hidayat
Editor: Surya Adam


Mau Sekolah Tatap Muka, Dua Syarat Utama Ini Wajib Dipenuhi

Written By Samsun Ramlie on Senin, 03 Agustus 2020 | Agustus 03, 2020

MENINJAU: Gubernur Jabar Ridwan Kamil mendampingi Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin saat meninjau sekolah di zona hijau belum lama ini. | Sumber foto: ist. 
Lingkarpena.id, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menegaskan, sekolah yang akan memulai kegiatan tatap muka di kelas setidaknya harus memenuhi dua syarat utama.

Hal ini ditegaskan gubernur yang akrab disapa Kang Emil usai rapat gugus tugas Jabar di Markas Komando Daerah Militer (Makodam) III Siliwangi di Bandung, Senin (3/7/2020). 

"Yang pertama, sekolahnya harus berada di kecamatan berzona hijau, yang kedua, sekolahnya harus sudah siap menjalankan protokol kesehatan dan skema pembelajaran," kata Kang Emil. 

Protokol kesehatan yang dimaksud, lanjut Kang Emil dilansir dari portal resmi Pemprov Jabar, di antaranya penyediaan fasilitas cuci tangan, dan skema pembelajaran adalah pembatasan kapasitas jumlah siswa. 

"Jadi harus dibatasi jumlah siswa menjadi setengah dari kapasitas. Makanya nanti ada yang sekolahnya Senin, Selasa, Rabu, lalu selanjutnya bergiliran," ujarnya.

Jika sekolah belum bisa melaksanakan protokol kesehatan dan skema pembelajaran yang disyaratkan, belum bisa melaksanakan sekolah tatap muka.

"Meskipun sekolahnya sudah berada di zona hijau, tetapi belum bisa memenuhi syarat itu, maka kita tidak akan mengizinkan menggelar sekolah tatap muka dahulu," terangnya. 

Menurutnya dalam minggu-minggu ini sudah ada yang memulai sekolah tatap muka. Oleh karena itu dinas pendidikan akan melakukan pemeriksaan dan memantau terhadap sekolah-sekolah untuk memulai sekolah tatap muka. 


Reporter: Alan
Editor: Surya Adam 

Kades Citarik "Sulap" Embung Desa Jadi Destinasi Ekowisata Situ Kubang

WISATA: Situ Kubang Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu tanpak dipadati pengunjung wisata lokal sekitar Palabuhanratu.| Sumber foto: istimewa
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Situ Kubang merupakan salah satu destinasi wisata andalan Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Kawasan wisata ini bahkan pernah dikunjungi Presiden Joko Widodo April 2018 lalu.

Kepala Desa Citarik Muhammad Ledi Nurlaedi mengatakan, kawasan wisata ini berada di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Terdapat beberapa spot menarik yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan.

"Di tempat ini ada air terjun, spot untuk melihat panorama yang indah dan tentunya situ (danau) yang menjadi ikon utama destinasi di sini," tuturnya kepada lingkarpena.id, Selasa (4/8/2020).

INDAH: Keindahan Situ Kubang hasil inisiatif kepala desa yang merubah embung desa tak terawat menjadi destinasi ekowisata. | Sumber foto: istimewa
Ia menjelaskan, Situ Kubang awalnya merupakan kolam retensi yang berfungsi sebagai kolam penampungan air bagi kebutuhan rumah tangga warga setempat. Sebab, warga Desa Citarik yang berdomisili di kawasan perbukitan sulit mendapatkan air tanah.

Belakangan situ ini bahkan menjadi kumuh karena sempat dijadikan tempat pembuangan sampah rumah tangga oleh warga sekitar. Namun didorong keinginan memiliki ekowisata, ia berinisiatif menyulapnya menjadi objek wisata alam.

"Alhamdulillah tahun 2018 kami mendapatkan alokasi program dana desa padat karya tunai sebesar total Rp771 juta. Sebagiannya kita serap untuk kebutuhan realisasi ekowisata di kampung kami," tukasnya.

Namun demikian, ia menegaskan destinasi ekowisata Situ Kubang yang berlokasi di Kampung Tegalega Pasir ini bukan hanya tanggung jawab Desa Citarik saja. Pemerintah daerah pun mempunyai peranan yang sangat besar untuk pengembangannya.

"Saya harap pemerintah dapat membantu pengembangan destinasi wisata ini, karena akan berdampak terhadap kesejahteraan warga sekitar. Untuk saat ini pengelolaannya saya limpahkan kepada karang taruna desa," pungkasnya.


Reporter: Wafik Hidayat
Editor: Surya Adam


Saba Desa
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. INDOMOLA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger