![]() |
| Kepala Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Lalan Jaelani. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| AIR BERSIH: Salah satu sumber air bersih di Kampung Cikadu tampak kering saat musim kemarau tiba. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
Media online & literasi alternatif Indonesia
![]() |
| Kepala Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Lalan Jaelani. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| AIR BERSIH: Salah satu sumber air bersih di Kampung Cikadu tampak kering saat musim kemarau tiba. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| BERBENAH: Pemdes Cimerang, Kecamatan Surabaya, Kabupaten Sukabumi sedang menata destinasi wisata Goa Kembar. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| INOVASI: Destinasi Wisata Situ Halimun di Kampung Halimun, Desa Warungkiara, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi yang menjadi program unggulan desa. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
![]() |
| DESTINASI WISATA: Goa Buniayu salah satu destinasi wisata di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung yang berada di lahan Perhutani.| Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| Kantor Kepala Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| Kantor Kepala Desa Sirnajaya, Kacamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
![]() |
| Kepala Desa Sirnajaya, Kecamatan Warungkiara, Dirma Sudirman. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
![]() |
| PRODUK UNGGULAN: Kopi Desa Nyalindung salah satu produk unggulan Desa Nyalindung. | Sumber foto : Rendy Wahyudi |
![]() |
| PELAYANAN: Salah seorang staf Desa Nyalindung standby pelayanan masyarakat di kantor desa. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
![]() |
| RUTILAHU: Aparatur Desa Sukamaju beserta perwakilan Kecamatan Cikakak foto bersama dengan pihak Yayasan Muslim Asia di rumah milik Bani yang baru selesai dibangun. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
![]() |
| Sekretaris Desa Boyongsari, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Sofwan Syah Saori. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
Sekretaris Desa Boyongsari Kecamatan Bantargadung Sofwan Syah Saori mengatakan, pemerintah desanya saat ini mengatur pembangunan dengan sistem skala prioritas. Sebab dengan keterbatasan anggaran yang ada di desa, tidak bisa membangun langsung secara keseluruhan ajuan masyarakat.
"Jadi sistemya pada saat Musdes atau Musdus kita buat seperti direngking, nanti yang akan diutamakan pelaksanaanya berdasarkan urutan teratas. Tentu hal ini sudah disetujui bersama saat itu," kata Sofwan kepada lingkarpena.id, Kamis (6/8/2020).
![]() |
| Kantor Kepala Desa Boyongsari, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
"Sempat ada warga mengunggah infrastruktur di wilayahnya yang belum dibangun melalui media sosial, kejadian itu sempat ramai karena dibarengi kata-kata tidak baik bahkan cenderung kasar," ungkapnya.
Padahal, lanjut Sofwan, pemerintah desa sangat ingin memenuhi semua keinginan warganya terkait pembangunan infrastruktur. Akan tetapi anggaran yang dimiliki tidak mungkin cukup untuk membangun semua secara bersamaan.
"Kita juga ingin semua sarana infrastruktur dapat dibangun secepatnya, tetapi semuanya itu terbentur oleh dana desa yang sangat terbatas," jelasnya.
Dengan begitu, ia mengimbau agar warga bersabar dan berperan aktif dalam kegiatan Musdes dan Musdus. Sehingga nantinya tidak ada lagi kesalahpahaman terkait pelaksanaan pembangunan di Desa Boyongsari.
"Saya harap warga yang kritis itu mau hadir ketika ada kegiatan Musdes atau Musdus, jadi mereka tahu wilayah mana yang pembangunanya akan diutamakan terlebih dahulu," tandasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Wafik Hidayat
![]() |
| Kantor Kepala Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
Pembangunan ruas jalan ini dinilai berdampak positif terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Terutama pertanian yang merupakan mata pencaharian utama warga Desa Mangunjaya.
"Kami sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang telah memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan di desa kami," ucap Sekretaris Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Nandang Mulyana kepada lingkarpena.id, Rabu (5/8/2020).
![]() |
| Sekretaris Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantargadung, Nandang Mulyana. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
"Sekarang keinginan warga tersebut sudah terwujud, berkat dukungan pemerintah daerah serta kerja keras kepala desa dan aparatur pemerintah desa lainnya," tukasnya.
Nandang menjelaskan, infrastruktur jalan kabupaten yang sudah dibangun di wilayahnya sepanjang 3,275 kilometer. Semua pembangunan itu di ruas jalan Cicareuh-Bumisari Desa Mangunjaya sejak tiga tahun ke belakang sampai sekarang.
"Awalnya dibangun sepanjang 450 meter di Kampung Cibuhung pada tahun 2018. Kemudian tahun 2019 sepanjang 975 meter di RW 03 Kampung Mangunjaya dan 850 meter di Kampung Cinyukcruk. Terakhir tahun 2020 ini di RW 04 Kampung Mangunjaya sepanjang 1 kilometer," paparnya.
Ia mengatakan, ruas jalan kabupaten yang rusak parah hanya sersisa satu kilometer lagi di Kampung Cibeber. Sementara rusak ringan sepanjang 2 kilometer disepanjang ruas Cicareuh-Buniasih.
"Harapan kami pembangunan jalan bisa dilanjutkan kembali. Ruas jalan yang masih rusak berat segera dibangun dan yang rusak ringan diperbaiki," pungkasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam
![]() |
| Kantor Kepala Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
Namun ragam potensi desa ini sulit berkembang karena terkendala beberapa faktor. Satu di antara kendala yang paling menghambat adalah kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah.
"Potensi Desa Nangerang cukup banyak, namun untuk pengembangannya sendiri terbilang sulit imbas dari akses jalan yang rusak parah," ungkap Kepala Desa Nangerang, Sopyan kepada lingkarpena.id di kantornya, Rabu (5/8/2020).
![]() |
| Kepala Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Sopyan di kantornya. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
"Beberapa potensi itulah yang terhambat pengembangannya, terutama untuk tranportasi pengiriman hasil produksi dan pemesanan bahan baku. Biaya tranportasi pun lebih mahal," tuturnya.
Ia berharap, ruas jalan Bojongjengkol-Miramontana yang berstatus jalan kabupaten ini lekas diperbaiki. Mengingat jalan ini merupakan akses tranportasi vital penghubung Kecamatan Jampangtengah dan Kecamatan Purabaya.
"Akses jalan ini bila diperbaiki bisa membantu perkembangan perekonomian Desa Nangerang secara tidak langsung," ucapnya.
Salah satu pengrajin peralatan rumah tangga di Desa Nangerang, Surahman mengaku kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Sebab akses jalan rusak menghambat pemasaran produk miliknya.
Sejauh ini pemasaran hanya bergantung pada pesanan yang dekat saja, itupun tidak tentu dan jumlahnya tidak banyak. "Pesanan yang jauh ada lumayan sebenarnya, cuma jarang yang mau datang ke sini dengan alasan jauh dan jalan jelek," keluhnya.
Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Surya Adam
![]() |
| WISATA: Situ Kubang Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu tanpak dipadati pengunjung wisata lokal sekitar Palabuhanratu.| Sumber foto: istimewa |
Kepala Desa Citarik Muhammad Ledi Nurlaedi mengatakan, kawasan wisata ini berada di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Terdapat beberapa spot menarik yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan.
"Di tempat ini ada air terjun, spot untuk melihat panorama yang indah dan tentunya situ (danau) yang menjadi ikon utama destinasi di sini," tuturnya kepada lingkarpena.id, Selasa (4/8/2020).
![]() |
| INDAH: Keindahan Situ Kubang hasil inisiatif kepala desa yang merubah embung desa tak terawat menjadi destinasi ekowisata. | Sumber foto: istimewa |
Belakangan situ ini bahkan menjadi kumuh karena sempat dijadikan tempat pembuangan sampah rumah tangga oleh warga sekitar. Namun didorong keinginan memiliki ekowisata, ia berinisiatif menyulapnya menjadi objek wisata alam.
"Alhamdulillah tahun 2018 kami mendapatkan alokasi program dana desa padat karya tunai sebesar total Rp771 juta. Sebagiannya kita serap untuk kebutuhan realisasi ekowisata di kampung kami," tukasnya.
Namun demikian, ia menegaskan destinasi ekowisata Situ Kubang yang berlokasi di Kampung Tegalega Pasir ini bukan hanya tanggung jawab Desa Citarik saja. Pemerintah daerah pun mempunyai peranan yang sangat besar untuk pengembangannya.
"Saya harap pemerintah dapat membantu pengembangan destinasi wisata ini, karena akan berdampak terhadap kesejahteraan warga sekitar. Untuk saat ini pengelolaannya saya limpahkan kepada karang taruna desa," pungkasnya.
Reporter: Wafik Hidayat
Editor: Surya Adam
![]() |
| Kantor Kepala Desa Wanajaya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
Kepala Desa Wanajaya, Kecamatan Cisolok, Deri Saputra mengatakan, desa yang ia pimpin merupakan desa termuda di Kecamatan Cisolok. Baru dua periode kepala desa dengan dirinya yang menjabat sejak awal berdiri beberapa tahun lalu.
"Desa Wanajaya ini baru dua periode pemerintahan hasil pemekaran kemarin. Saya merasa pelayanan publik masih belum maksimal, makanya hal itu menjadi prioritas saya saat ini," ujarnya kepada lingkarpena.id, Senin (3/8/2020).
![]() |
| Kepala Desa Wanajaya, Kecamatan Cisolok, Deri Saputra. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
"Pembangunan infrastruktur kan terhambat Covid-19, sehingga aparatur desa bisa lebih banyak waktu di kantor dan bisa fokus memberikan pelayanan kepada warga," ungkapnya.
"Pembangunan infrastruk kan terhambat akibat covid, jadi aparatur desa bisa lebih banyak waktu di kantor dan fokus melayani keperluan warga," ucapnya.
Pelayanan publik ini, menurutnya mencakup banyak hal. Mulai dari penyaluran bantuan Covid-19 hingga pelayanan kesehatan yang dirasa masih banyak kendala sampai sekarang.
Salah satu contoh soal warga yang mau melahirkan. Dulu yang tidak punya Kartu Indonesia Sehat (KIS) selalu memakai Jampersal. Namun sekarang program Jampersal sudah tidak ada lagi.
"Persoalan-persoalan baru seperti itu pun harus segera ditangani desa, dicarikan jalan keluarnya," pungkasnya.
Reporter: Wafik Hidayat
Editor: Surya Adam
![]() |
| DIBANGUN: Rumah warga Desa Cikelat milik Ibu Nani yang sudah selesai dibangun. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
"Saat ini saya sedang fokus bakti sosial, kegiatannya adalah membangun rutilahu setiap tiga bulan sekali," ujarnya kepada lingkarpena.id, Jum'at (31/7/2020).
Menurutnya, program bedah rutilahu ini ia bangun menggunakan sistem bakti swadaya kepala desa, yaitu dengan pemanfaatan material di sekitar pembangunan. Namun khusus bahan yang tidak tersedia, dilakukan pembelian dengan menggunakan uang pribadi kades.
"Satu unit rumah anggarannya sekitar Rp20 juta, itupun menggunakan uang saya pribadi. Tapi material yang bisa diambil di sekitar, seperti batu belah dan lainnya, itu diatur lembaga," tuturnya.
Sementara ini, ia mengatakan baru bisa menyelesaikan dua unit rumah tidak layak huni warganya. Yaitu rumah milik Pak Jutasa di Kampung Pareang RT 28/11 Dusun Sukabakti dan rumah milik Ibu Nani di Kampung Pangkalan RT 02/01 Dusun Karamatjaya.
"Selain rutilahu, kita juga sudah membangun tribun lapang sepak bola, tempat duduk di pinggir lapang taman kecil di depan kantor desa dan lainnya," pungkas dia.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam
![]() |
| Kepala Desa Cikelat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Deni Agustian. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
Lingkarpena.id, SUKABUMI - Pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Desa Cikelat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi terbilang sukses. Beberapa produk bahkan sudah dikerjasamakan dengan pasar swalayan dan minimarket dalam pemasarannya.
Kepala Desa Cikelat, Kecamatan Cisolok, Deni Agustian mengatakan, pembinaan UMKM di desanya sudah berjalan lama. Sampai saat ini ada beberapa produk yang sudah bisa masuk ke swalayan dan minimarket di wilayah Palabuhanratu. Seperti Selamat Toserba, Yogya Departement Store dan 212 Mart.
"Produk UMKM binaan desa yang sudah berlabel resmi di antaranya bawang goreng teri, tomat kurma serta sambal bawang dengan empat varian rasa," ujarnya kepada lingkarpena.id, Jum'at (31/7/2020).
![]() |
| Kantor Kepala Desa Cikelat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
Disinggung soal peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Deni mengatakan, untuk sementara UMKM ini masih dikelola oleh desa, belum diserahkan kepada BUMDes yang notabene sebagai lembaga pengelola usaha milik desa.
"Untuk sementara produk UMKM ini masih saya yang kelola, soalnya BUMDes masih baru dibentuk dan belum eksis," tuturnya.
Ke depan, kata dia, rencananya produk tersebut akan diserahkan pengelolaannya ke Bumdes agar bisa lebih dikembangkan lagi. Selain itu, Bumdes juga harus memaksimalkan potensi usaha lain, seperti bidang pertanian.
"Saya ingin selain produk yang sudah ada, Bumdes akan saya dorong untuk memaksimalkan potensi di bidang pertanian," tandasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam
![]() |
| PERLU PERBAIKAN: Kondisi jalan rusak di Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
"Kalau tidak salah, jalan ini terakhir diaspal tahun 1998. Pengaspalan mulai dari jalan utama sampai ke Kampung Wangun," ungkap warga Kampung Ciawitemen RT 07/02, Desa Bojongjengkol, Konah (54) kepada lingkarpena.id, Jum'at (31/7/2020).
Selang beberapa tahun kemudian, tambah Konah, jalan ini sudah rusak lagi hingga tersisa hanya jalan tanah tampa aspal sama sekali. Sejak saat itu belum pernah ada perbaikan sampai sekarang.
"Terakhir diaspal tahun 1997 atau 1998, sampai sekarang belum pernah diperbaiki lagi. Wajar saja sudah seperti kubangan kerbau," ungkapnya.
![]() |
| Jalan rusak di Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah yang belum diperbaiki hingga sekarang. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
"Kondisi jalan rusak parah, sehingga berdampak pada warga yang kesulitan menjual hasil pertanian dan peternakannya. Tentu menghambat laju perekonomian di desa kami," tuturnya.
Bahkan di musim penghujan, lanjut dia, petani harus rela menyewa mobil hanya sekadar untuk menjual hasil tani dan ternak mereka, karena tidak memungkinkan jika menggunakan sepeda motor.
"Jika tidak sanggup sewa mobil, biasanya tengkulak mengambil ke rumah petani. Kalau begini harga jual dipastikan turun," bebernya.
Dengan begitu, ia berharap instansi berwenang bisa segera memperbaiki ruas jalan tersebut. Agar aktivitas perekonomian masyarakat Desa Bojongjengkol bisa berjalan lancar.
"Kami harap pemerintah segera memperbaiki jalan ini, agar memudahkan akses tranportasi perekonomian masyarakat," pungkasnya.
Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Surya Adam
![]() |
| MEMBANGUN: Pengerjaan pembangunan lapang serbaguna di Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampangtengah. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
Bendahara Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampangtengah, Ineu mengatakan, kesehatan merupakan salah satu penunjang peningkatan sumber daya manusia. Sekaligus memiliki peranan penting dalam menanggulangi kemiskinan suatu daerah.
"Sadar pentingnya hal itu menjadi landasan pemerintah desa Bojongtipar membangun sarana olahraga masyarakat," ujarnya kepada lingkarpena.id saat ditemui di kantornya, Kamis (30/7/2020).
![]() |
| Bendahara Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampangtengah, Ineu di kantornya. | Sumber foto: Rendy Wahyudi |
"Sumber anggaran dari bantuan khusus kabupaten dengan total anggaran sebesar Rp100 juta," ungkapnya.
Adapun mekanisme pengerjaan, tambah dia, yakni menggunakan sistem padat karya tunai (cash for work) sesuai anjuran pemerintah.
Di mana, mekanisme ini merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa yang bersifat produktif dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya, tenaga kerja dan teknologi lokal.
"Mekanisme di lapangan kami gunakan sistem padat karya tunai, dan untuk proses pembangunan saat ini sedang berjalan. Kemungkinan dalam waktu lapangan ini sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," bebernya.
Reporter : Rendy Wahyudi
Editor : Surya Adam
![]() |
| Kantor Kepala Desa Parisuren, Kecamatan Bantargadung. | Sumber foto: dok. Lingkarpena.id |
Hal itu untuk menggenjot perekonomian masyarakat yang mayoritas petani. Adapun dorongan pemdes yaitu dengan cara memberikan modal anggaran kepada Bumdes. Baik untuk penanaman tanaman bernilai ekonomis maupun mengkoordinir kebutuhan pupuk para petani.
Kepala Desa Pasirsuren, Kecamatan Palabuhanratu, Muhammad Enyang Jaelani menjelaskan, kepengurusan bumdes periode tahun 2020 ini baru terbentuk. Namun karena pandemi Covid-19, bumdes yang baru ini belum mendapatkan anggaran.
"Anggaran tahun ini digunakan untuk penanganan Covid-19 terlebih dahulu, jadi bumdes di tahun ini belum bisa melakukan kegiatan apapun," ungkapnya kepada lingkarpena.id, Kamis (30/7/2020).
Ke depan, tambah Enyang, ia akan mendorong bumdes untuk mengembangkan sektor pertanian di wilayahnya, sebab mayoritas warga Pasirsuren merupakan petani.
"Rencananya nanti saya dan bumdes mau menggalakan penanaman jahe dan pisang. Karena tanaman itu cukup lumayan harganya, dan dapat meningkatkan ekonomi warga," tuturnya.
Selain itu ia mengatakan, dirinya sudah berkoordinasi dengan bumdes untuk memasok kebutuhan pupuk petani di Desa Pasirsuren.
"Karena di sini mayoritas petani, pastinya petani perlu pupuk, makanya kita ingin kebutuhan pupuk petani di desa ini dikelola oleh bumdes," terangnya.
Ia berharap, tahun depan tidak ada kendala seperti masalah wabah Covid-19 yang melanda di tahun ini. Agar rencana yang sudah digagas bersama bumdes bisa terealisasi.
"Saya ingin rencana ini bisa dilaksanakan tahun depan, kalau semunya lancar, tidak seperti tahun ini, terkendala Corona," pungkasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam
![]() |
| PERLU PERBAIKAN: Kondisi ruas jalan kabupaten di Desa Gunungtanjung sepanjang 7 kilometer rusak parah. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
Pasalnya, ruas jalan kabupaten yang rusak parah sepanjang tujuh kilometer ini, merupakan akses utama warga. Tentu berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi serta aktivitas warga sehari-hari.
Sekertaris Desa Gunungtanjung, Kecamatan Cisolok, Saumpana mengatakan, keinginan pemerintah desa agar jalan ini segera diperbaiki cukup beralasan. Kerusakan jalan sudah terjadi sejak lama, namun belum pernah ada perbaikan sama sekali.
"Saking sudah terlalu lama, saya sampai lupa kapan jalan ini di aspal, makanya pemdes minta dinas PU segera memperbaiki ruas jalan ini, kasian warga," tandasnya kepada lingkarpena.id, Kamis (30/7/2020).
![]() |
| Sekretaris Desa Gunungtanjung, Kecamatan Cisolok, Saumpana. | Sumber foto: Wafik Hidayat |
"Kami merasa dari dulu sampai sekarang, pemerintah kurang memperhatikan infrastruktur di Desa Gunungtanjung ini, terutama jalan," keluhnya.
Saumpana menyatakan pemerintah desa sudah berupaya semaksimal mungkin mengakses instansi dan legislatif agar harapan warga untuk menikmati jalan mulus dapat terwujud.
"Kemarin sih sudah masuk di Musrenbang Kecamatan Cisolok untuk kegiatan tahun ini, meski hanya 2,5 kilometer saja yang masuk anggaran perbaikan. Tapi itupun belum ada informasi kelanjutannya sampai sekarang," pungkasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam
![]() |
| Kepala Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Desi Sapari. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
Kepala Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak, Desi Sapari mengatakan, di wilayahnya terdapat spot paralayang berstandar nasional di Kampung Cikiwul RT 02/03. Lokasi ini berada di lahan Hak Guna Usaha (HGU) PTPN VIII Kebun Pasirbadak.
"Kami berencana mengembangkan potensi ini dan menjadikan aset desa, tapi masih ada masalah peizinan yang harus diselesaikan terlebih dahulu," ungkapnya kepada lingkarpena.id, Rabu (29/7/2020).
Ia mengaku awalnya tidak mengetahui jika di wilayahnya terdapat spot paralayang, apalagi menurut pakarnya spot ini berstandar nasional.
"Saya tahu ketika ada aktor Kang Fatir (pemeran Bah Rama di sinetron si boy anak jalan), dia meminta izin ke saya untuk menyalurkan hobinya di sini," ungkapnya.
Saat itu, lanjut Desi, Kang Fatir datang bersama wisatawan mancanegara dari Jepang serta temannya yang merupakan Ketua Klub Papatong, klub penggemar olah raga paralayang.
"Waktu itu teman Kang Fatir bilang kalau spot di sini bahkan bisa digunakan untuk kompetisi, tapi harus dibenahi dulu fasilitasnya. Apalagi aksesnya juga tidak jauh dari jalan," bebernya.
Berkaitan izin, pemdes Ridogalih sebenarnya sudah koordinasi dengan PTPN Pasirbadak selaku pemegang HGU lahan. Namun perusahaan perkebunan pelat merah ini belum bisa mengeluarkan izin tersebut.
"Menurut pihak perkebunan, izin harus diajukan oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), dan saya juga sudah bicara dengan KONI, tapi belum ada informasi lagi sampai sekarang," pungkasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam
![]() |
| AMBRUK: Kondisi Jembatan Cihideung Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak yang ambruk sejak 2017 lalu belum diperbaiki. | Sumber foto : Wafik Hidayat |
Pasalnya, jembatan yang ambruk pada 2017 lalu ini merupakan penghubung alternatif beberapa kampung di Desa Sirnarasa.
Kepala Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Okih Suryadi mengatakan, sejak ambruk akibat terjangan arus deras sungai yang meluap pada 2017 lalu, jembatan tidak bisa dilalui warga. Baik menggunakan kendaraan bermotor maupun berjalan kaki. Sebab sampai sekarang kondisi jembatan rusak masih belum diperbaiki.
"Warga sekitar harus rela memutar lebih jauh dalam beraktifitas. Ada sebagian warga enggan memutar akhirnya nekat lewat jembatan, ini membahayakan," ungkapnya kepada lingkarpena.id, Selasa (28/7/2020).
Pihak desa menurutnya sudah berusaha mencari solusi agar jembatan bisa segera diperbaik. Namun belum ada realisasi nyata dari pihak terkait.
"Kami pernah adukan hal ini kepada intansi terkait dalam hal ini Dinas PU Kabupaten Sukabumi, tapi sampai sekarang masih belum ada realisasinya," bebernya.
Selain jembatan, ruas jalan sekitar juga belum pernah dibangun sama sekali. Di tambah lebar jalan yang harus diperlebar guna memberikan kenyamanan dan keamanan warga dalam berkendara.
"Ruas jalan sekitar jembatan pun sangat sempit dan curam, makanya harus diperlebar. Kalau tidak, saya takut terjadi hal-hal membahayakan yang tidak diinginkan," tuturnya.
Okih berharap, lewat pemberitaan ini pihak terkait terutama Dinas PU Kabupaten Sukabumi bisa tergerak hatinya dan segera merealisasi keinginan warga Desa Sirnarasa.
"Saya harap Dinas PU Kabupaten Sukabumi segera memperbaiki jembatan serta memperlebar jalan di sana menjadi 2,5 meter dengan panjang sekitar 650 meter," tandasnya.
Reporter : Wafik Hidayat
Editor : Surya Adam