Home »
Berita
,
pict
» Talkshow PMII Purwokerto Ajak Mahasiswa berperan dalam menangkal intoleransi dan radikalisme
Talkshow PMII Purwokerto Ajak Mahasiswa berperan dalam menangkal intoleransi dan radikalisme
Written By Samsun Ramlie on Kamis, 19 Desember 2019 | Desember 19, 2019
Reporter : Andi utara
LINGKARPENA.id - Radikalisme yang berkembang saat ini bahumembahu dengan kepentingan - keoentingan politik.Maka mengkristal menjadi bentuk radikalisme intoleransi bahkan Aksi - aksiterorisme.
Hal tersebut dikemukakan oleh ketua PCNU Banyumas, Sabar Munanto di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, Jawa Tengah, dalam kegiatan Tolkshow Tematik dengan tema “Peran Mahasiswa Dalam Menangkal Intoleransi dan Radikalisme” yang diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purwokerto. Hadir sebagai nara sumber pada acara tersebut, Wakil Bupati Banyumas Drs. Sadewo Tri Lastiono, Wakil Rektor 4 Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto KH.Muhyidin Dawoed, SS, M.Pd.I, Ketua Pengurus Cabang NU Sabar Munanto. Kegiatan dihadiri oleh sejumlah peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Purwokerto, Jawa Tengah, Jum'at (13/12/2019).
Dalam paparan lainnya, Sabar Munanto menyampaikan bahwa saat ini, pemahaman fundamental terhadap ajaran agama, banyak yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang haus kekuasaan.
Pada kesempatan terebut, Wakil Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono dalam paparannya menyampaikan bahwa hingga saat ini, masalah terorisme dan radikalisme masih marak terjadi di seluruh belahan bumi didunia, termasuk di Indonesia. Sebagai pemahaman baru yang dibuat oleh pihak-pihak tertentu mengenai suatu hal, seperti agama sosial dan politik. Pengaruh radikalisme menjadi semakin rumit karena berbaur dengan tindakan terorisme yang cenderung menggunakan aksi-aksi kekerasan.
Masih kata Sadewo, hal yang sangat memprihatinkan penyusupan paham radikalisme justru sangat mudah masuk di tengah kehidupan kampus. Kerentanan tersebut tidak hanya dari sudut psiko-sosial semata, tetapi dalam aspek instrumen penyebaran paham kebencian dan kekerasan telah didesain dengan pola dan gaya kehidupan kampus. Beberapa cara yang mereka lakukan seperti melalui buku, majalah, buletin, dan yang paling masif melalui jejaring internet maupun media sosial, katanya.
"Di Indonesia radikalisme sudah menjalar ke seluruh kehidupan di masyarakat. Bahkan radikalisme pun sudah menyasar pada TNI, Polri, ASN. Bahkan wilayah pendidikan juga tidak luput dari ancaman radikalisme. Kaum radikal menyebarkan paham dikalangan mahasiswa. Mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu berkontribusi dalam memerangi radikalisme. Bangsa ini akan lebih maju dengan dasar ideologi Pancasila", ujar Sadewo.
Sementara itu, pada acara tersebut, Wakil Rektor 4 UNU Purwokerto, KH.Muhyidin Dawoed, SS, M.Pd.I menjelaskan dalam paparannya bahwa radikalisme itu ada dua, radikalisme politik dan radikalisme agama. "HTI Indonesia itu pusatnya di London. Sengaja dipelihara sebagai alat proxy war, untuk menghancurkan dan mengganggu negara lain. Oleh sebab itu masyarakat Indonesia harus mewaspadai bahaya proxy war tersebut, Indikasinya dengan membenturkan atau mengganggu kaum muslimin melalui kelompok tersebut dengan berbagai ulah, seperti tuduhan bid’ah, munafik, kafir, dll", kata Kiyai Muhyidin.
Lebih lanjut KH. Muhyidin Dawoed memaparkan bahwa mahasiswa sebagai garda terdepan dalam menjaga Pancasila sebagai ideologi negara, oleh sebab itu harus berkontribusi nyata dalam menangkal tumbuh kembangnya radikalisme. Mahasiswa tidak boleh larut dalam tindakan-tindakan intoleransi. Dalam Pancasila disitu sudah terdapat intisari dari semua agama.
Terkait Islam Nusantara, KH Muhyidin Dawoed menyampaikan bahwa Islam nusantara adalah Islam yang ada di nusantara. Islam nusantara disalahpahami sebagai sebuah mazhab baru, padahal Islam nusantara sesungguhanya ajaran Islam berciri adaptif terhadap budaya lokal.

